Bagaimana Mencairkan Reksadana?

Bagaimana Cara Mencairkan/Menjual Reksadana?



Sudah merasa cukup puas dengan hasil investasi reksadana Anda? Atau, tiba-tiba Anda butuh dana ekstra? Atau, justru Anda merasa tidak puas dengan imbal hasil produk reksadana pilihan Anda? Mungkin, kini, saatnya Anda menjual atau mencairkan kembali unit penyertaan Anda untuk merealisasikan keuntungan investasi Anda atawa mencegah kerugian lebih lanjut. Caranya juga segampang membelinya, kok.

Biasanya, saat Anda membeli unit penyertaan reksadana, si agen penjual atau manajer investasi sudah langsung memberi Anda formulir penjualan. Tujuannya, bila sewaktu-waktu ingin menjual kembali unit penyertaan reksadana, Anda tinggal mengisi dan mengirimkannya via mesin faksimili. Dus, Anda tidak perlu repot lagi datang ke gerai agen penjual atawa manajer investasi.

Bila belum mempunyai formulir itu, Anda bisa meminta si agen atau manajer investasi untuk mengirimkannya. Tapi, bila sedang senggang, tak ada salahnya Anda langsung mendatangi gerai mereka. Sekalian mengisi dan menyerahkannya kembali. Dus, permohonan Anda akan langsung tercatat pada hari yang sama.

Waktu masuknya formulir itu penting, lo. Sebab, itu bisa menentukan total hasil investasi Anda. Bila formulir permohonan itu tercatat masuk ke meja manajer investasi sebelum pukul 12.00, Anda akan memperoleh harga per unit penyertaan pada penutupan perdagangan hari yang sama. Tapi, bila data itu masuk setelah pukul 12.00, Anda akan memperoleh harga per unit penyertaan pada penutupan perdagangan pada hari bursa berikutnya.

Nah, untuk mengetahui berapa besar kira-kira hasil investasi Anda selama ini, Anda bisa melihat harga per unit penyertaan (nilai aktiva bersih per unit penyertaan) di surat kabar. Harap diingat, angka yang tercantum tersebut merupakan harga per unit penyertaan pada sehari bursa sebelumnya. Jangan lupa juga untuk menghitung biaya penjualan ketika Anda ingin menjual kembali unit penyertaan reksadana.

Tapi, kebanyakan reksadana membebaskan biaya penjualan setelah dana investasi mengendap dalam periode tertentu; biasanya, setelah mencapai satu tahun. Biar lebih gamblang, mari kita pakai ilustrasi yang sama seperti saat membahas pembelian reksadana beberapa waktu lalu. Singkat cerita, ketika itu Anda menginvestasikan dana sebesar Rp 5 juta. Dengan harga Rp 2.000 per unit penyertaan dan biaya pembelian sebesar 2%, Anda memiliki 2.272,73 unit penyertaan.

Setelah 12 bulan, harganya mencapai Rp 2.500 per unit penyertaan. Anda juga terbebas dari biaya penjualan kembali. Artinya, dana Anda sudah berbiak menjadi Rp 5.681.825. Jadi, selama 12 bulan itu, Anda mendapatkan keuntungan investasi sebesar Rp 681.825 atau sekitar 13,6%.

Ketentuan batas saldo minimal tersebut dibuat lantaran manajer investasi ingin menghindari pengelolaan yang tidak efisien. Pembatasan ini juga membantu agar perkembangan dana si investor bisa sebanding dengan hasilnya.

Seperti halnya pembelian unit penyertaan, dalam pencairan atawa penjualan kembali unit penyertaan reksadana, manajer investasi terkadang menerapkan aturan batas minimal pencairan dana. Biasanya, manajer investasi juga menentukan batas minimal nilai saldo unit penyertaan suatu produk reksadana. Dus, jika batas ini tercapai, manajer investasi berhak secara otomatis mencairkan dana milik Anda.

Bayangkan saja, bila dana si investor kelewat kecil, manajer investasi akan kerepotan dalam mengelola dan membuat pelaporannya. Bisa-bisa biayanya lebih besar ketimbang hasil investasinya. Dus, bukannya bertambah, nilai investasi itu justru bisa tergerus. Di samping itu, manajer investasi juga berhak membatasi jumlah penjualan maksimal setiap harinya. Biasanya, paling pol hingga 20% dari total nilai aktiva bersih (NAB).

Hal seperti itu pernah terjadi ketika terjadi aksi redemption alias pencairan besar-besaran pada medio September 2005 dan masih terasa hingga Januari 2006. Seperti pernah kita bahas sebelumnya, kejadian yang dipicu kenaikan suku bunga ini sempat membuat industri reksadana oleng.

Dengan membatasi maksimal pencairan hingga 20% dari total dana kelolaan per hari, paling tidak, manajer investasi bisa mengambil nafas untuk menyediakan dananya. Plus, mencegah aksi jual aset portofolio secara buru-buru yang bisa membuat harganya jatuh terlalu murah. Berarti pula, ini mencegah atau mengerem jatuhnya nilai aktiva bersih per unit penyertaan.

Lantas, bila skenario terburuk itu terjadi? Andaikata, satu produk reksadana memiliki total dana kelolaan sebesar Rp 1 triliun. Nah, ternyata dalam satu hari terjadi pengajuan permohonan pencairan unit penyertaan reksadana sebesar Rp 500 miliar alias 50% dari total dana kelolaan.

Pada situasi seperti itu, manajer investasi hanya akan memproses pencairan dengan kuota 20% dari total dana kelolaan alias Rp 200 miliar. Caranya, berlaku prinsip first-come-first-served. Artinya, formulir yang masuk duluan akan lebih dulu diproses. Sisanya, baru akan diproses esok harinya sesuai urutan. Begitu seterusnya sampai semua permohonan pencairan diproses.

Harap diingat, Anda tidak bisa menjual kembali unit penyertaan reksadana seperti mencairkan deposito yang dananya langsung bisa Anda terima hari itu juga. Dalam aturan main reksadana yang ditetapkan Bapepam, Anda mesti menunggu paling lambat 7 hari bursa sejak manajer investasi menerima permohonan pencairan. Biasanya, dana tersebut langsung ditransfer ke rekening Anda.

Nah, bila ingin mengalihkan investasi ke produk reksadana lain yang diterbitkan oleh manajer investasi yang sama, lagi-lagi Anda harus mengisi formulir. Plus, Anda akan dikenakan biaya pengalihan. Jangan khawatir, biasanya biaya pengalihan ini lebih kecil nilainya ketimbang biaya penjualan kembali atau biaya pembelian.


Sumber: http://personalfinance.kontan.co.id/main/investasi_pemula 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar